بسم الله الرحمن الرحيم

Rabu, 10 Juli 2013

KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

Segala puji hanya milik Alloh, Dzat yang telah mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan. Sholawat dan salam kita haturkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mengajarkan bagaimana seharusnya kita bersikap kepada bulan Ramadhan. Bulan yang mulia, bulan ampunan, bulan yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh setiap muslim. Maka pada kesempatan yang mulia ini – dengan izin Alloh- sedikit kita akan membahas keutamaan bulan puasa dan keutamaan puasa Ramadhan. Selamat membaca.

KEUTAMAAN BULAN PUASA
Banyak ulama yang mengharapkan bisa bertemu dengan bulan Ramadhan, bahkan sebagian ulama salaf berkata :
كَانُوا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ
”Mereka (para sahabat) berdo’a kepada Allah selama 6 bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadlan.” [Lathaaiful Ma’arif hal. 232]
Mereka melakukan itu semua tidak lain karena banyak sekali keutamaan bulan tersebut diantaranya :
a.       Pada bulan tersebut diwajibkan puasa Ramadhan :
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ
"Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, di mana Allah mewajibkan puasa di bulan itu kepada kamu.” [Shohih An Nasai, no. 2105]
b.      Bulan puasa bulan barokah
Bulan puasa adalah bulan yang penuh berkah. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِيْنِ فِيْهِ لَيْلَةٌ هِيَ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرُهَا فَقَدْ حُرِمَ
"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, di mana Allah mewajibkan puasa di bulan itu kepada kamu. Pada bulan itu pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan durhaka dibelenggu. Di bulan itu terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barang siapa dihalangi mendapatkan kebaikannya, maka ia telah terhalangi." [Shohih An Nasai, no. 2105]
c.       Pintu-pintu surga dibuka pintu-pintu neraka ditutup
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ - وَفِيْ رِوَايَةٍ : أَبْوَابُ الْجَنَّةِ- وَفِيْ رِوَايَةٍ: أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ
“Apabila masuk bulan Romadhon maka dibukalah pintu langit –dalam satu riwayat dikatakan: pintu surga dan dalam riwayat lainnya: pintu-pintu rahmat-. Dan ditutup pintu-pintu jahannam dan para syaitan dibelenggu.” [HR. Bukhori, no.1899 dan Muslim, no.1079]

d.      Bulan diturunkannya al Quran
Alloh berfirman :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” [QS. Al Baqoroh : 185]
e.      Bulan pembebasan dari api neraka

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجِنَانِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَنَادَى مُنَادٍ : يَابَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَابَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَللَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُل لَيْلة

“Bila malam pertama bulan Ramadhan telah tiba, maka seluruh setan dan jin gentayangan di belenggu. Seluruh pintu neraka ditutup, tidak satu pintupun yang masih terbuka. Sebaliknya, seluruh pintu surga dibuka, dan tidak satu pintupun yang tertutup. Lebih dari itu, ada penyeru yang berkata. ‘Wahai para pencari kebaikan bergegaslah dan wahai pencari kejelekan berhentilah!. Dan pada setiap malam Allah memerdekakan sebagian hambanya dari ancaman siksa neraka” [Shohi Ibnu Majah, no. 1339]
f.        Lailatul qodar berada di dalamnya
Termasuk keistimewaan bulan Ramadhan, bahwa di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu malam yaitu malam lailatul qodar :
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِيْ سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِيْ خَامِسَةٍ تَبْقَى
“Carilah (lailatul qadr) pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, pada sembilan malam tersisa, pada tujuh malam tersisa, pada lima malam tersisa.” [HR. Bukhori, no. 2021]
KEUTAMAAN PUASA RAMADHAN
Selain bulan Ramadhan yang memiliki keutamaan yang begitu istimewa, demikian halnya puasa Ramadhan. Ia juga memiliki banyak sekali keutamaan, diantaranya adalah :
a.       Puasa adalah rukun islam
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“ Islam dibangun di atas lima pondasi : syahadat ‘ bahwasannya tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Alloh’ dan Muhammad adalah utusan Alloh, menegakkan sholat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan.” [HR. Muslim, no.16]
b.      Sebagai perisai dari api neraka
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
الصَوْمُ جُنَّةٌ
“ Puasa adalah perisai.” [Shohih An Anasai, no.2230]
c.       Puasa memberi syafaat dengan izin Alloh
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ
“Pahala puasa dan pahala al Qur’an pada hari kiamat akan memberikan syafaat. Pahala puasa berkata : ‘wahai robku aku telah menghalanginya dari makan dan beraktifitas di siang hari maka izinkan aku memberinya syafaat. Pahala Al qur’an berkata : ‘ aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari ( -karena sibuk membaca al Qur’an-) maka izinkan aku memberinya syafaat. Maka keduanya diizinkan memberikan syafaat’.” [Shohih Jami, no. 3882]
d.      Do’a orang yang berpuasa mustajab
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ  :  دَعْوَةُ الصَّائِمِ وَ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَ دَعْوَةُ الْمُسَافِرِ
"Ada tiga doa mustajab: doa orang yang berpuasa, doa orang yang dianiaya dan doa musafir." [al Jami’ As Shoghir, no. 3453]
BEBERAPA HADITS LEMAH BERKAITAN DENGAN FADHILAH PADA BULAN RAMADHAN
a.       (( صُوْمُوْا تَصِحُّوْا ))
“Berpuasalah, kalian akan sehat.”
Hadits ini dhaif (lemah), sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Al Iraqi di Takhrijul Ihya (3/108), juga Al Albani di Silsilah Adh Dha’ifah (253). Bahkan Ash Shaghani agak berlebihan mengatakan hadits ini maudhu (palsu) dalam Maudhu’at Ash Shaghani (51).
Keterangan: jika memang terdapat penelitian ilmiah dari para ahli medis bahwa puasa itu dapat menyehatkan tubuh, makna dari hadits dhaif ini benar, namun tetap tidak boleh dianggap sebagai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
b.       (( نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ ))
“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya dikabulkan, dan amalannya pun akan dilipat gandakan pahalanya.”
Hadits ini dhaif, sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (1/310). Al Albani juga mendhaifkan hadits ini dalam Silsilah Adh Dha’ifah (4696).
Terdapat juga riwayat yang lain:
الصَّائِمُ فِيْ عِباَدَةٍ وَ إِنْ كَانَ رَاقِداً عَلَى فِرَاشِهِ
“Orang yang berpuasa itu senantiasa dalam ibadah meskipun sedang tidur di atas ranjangnya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Tammam (18/172). Hadits ini juga dhaif, sebagaimana dikatakan oleh Al Albani di Silsilah Adh Dhaifah (653).
Yang benar, tidur adalah perkara mubah (boleh) dan bukan ritual ibadah. Maka, sebagaimana perkara mubah yang lain, tidur dapat bernilai ibadah jika diniatkan sebagai sarana penunjang ibadah. Misalnya, seseorang tidur karena khawatir tergoda untuk berbuka sebelum waktunya, atau tidur untuk mengistirahatkan tubuh agar kuat dalam beribadah.
Sebaliknya, tidak setiap tidur orang berpuasa itu bernilai ibadah. Sebagai contoh, tidur karena malas, atau tidur karena kekenyangan setelah sahur. Keduanya, tentu tidak bernilai ibadah, bahkan bisa dinilai sebagai tidur yang tercela. Maka, hendaknya seseorang menjadikan bulan Ramadhan sebagai kesempatan baik untuk memperbanyak amal kebaikan, bukan bermalas-malasan.
c.       (( هُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَ وَسْطُهُ مَغْفِرَةٌ وَ آخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ ))
“Dia (Ramadhan) adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”
Hadits ini didhaifkan oleh para pakar hadits seperti Al Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib (2/115), juga didhaifkan oleh Syaikh Ali Hasan Al Halabi di Sifatu Shaumin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamy (110), bahkan dikatakan oleh Abu Hatim Ar Razi dalam Al ‘Ilal (2/50) juga Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (871) bahwa hadits ini Munkar.
Yang benar, di seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmah, seluruhnya terdapat ampunan Allah dan seluruhnya terdapat kesempatan bagi seorang mukmin untuk terbebas dari api neraka, tidak hanya sepertiganya saja. Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini adalah:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Orang yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. Bukhari no.38, Muslim, no.760]
Dalam hadits ini, disebutkan bahwa ampunan Allah tidak dibatasi hanya pada pertengahan Ramadhan saja. Lebih jelas lagi pada hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Rasulullah bersabda:
إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ، وَمَرَدَةُ الجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ، وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ
“Pada awal malam bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin jahat dibelenggu, pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Pintu surga dibuka, tidak ada satu pintu pun yang ditutup. Kemudian Allah menyeru: ‘wahai penggemar kebaikan, rauplah sebanyak mungkin, wahai penggemar keburukan, tahanlah dirimu’.  Allah pun memberikan pembebasan dari neraka bagi hamba-Nya. Dan itu terjadi setiap malam” [HR. Tirmidzi 682, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi] – point ini kami ringkas dari makalah akh. Yulian Purnama dengan judul ’12 Hadits Lemah dan Palsu Seputar Ramadhan’ : http://muslim.or.id/ramadhan/12-hadits-lemah-dan-palsu-seputar-ramadhan.html# -
JANGAN SIA-SIAKAN KESEMPATAN
Bertemu dengan bulan Ramadhan adalah sebuah nikmat yang sangat agung, mengingat keutamaan yang begitu besar yang sebagiannya telah kita jelaskan. Maka jangan sia-siakan kesempatan ini. Jangan sampai kita merugi dalam waktu longgar dan kesehatan yang diberikan Alloh kepada kita. Jangan sampai kita masuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang.” [HR. Bukhari, no. 5933]
Gunakanlah waktu longgar kita pada bulan ini untuk beramal sholeh, terutama bersedekah dan membaca Qur’an. Ibnu abbas bercerita :
كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ - عَلَيْهِ السَّلاَمُ - يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ - عَلَيْهِ السَّلاَمُ - كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ .
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang yang paling murah hatinya dengan (berbagi-pen) kebaikan, dan beliau lebih bermurah hati ketika di dalam bulan Ramadhan, ketika ditemui oleh Jibril ‘alaihissalam, dan Jibril ‘alaihissalam menemui beliau setiap malam dalam Ramadhan samapi berakhir (bulan), ia menyampaikan Al Quran kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shallallahu ‘alaihi wasallam, maka jika Jibril ‘alaihissalam menemui beliau maka beliau adalah seorang yang lebih bermurah hati dengan (berbagi) kebaikan daripada angin yang mengalir.” [HR. Bukhari, no.1902]
Alloh a’lam bisshowwab

Ibnu Ram 220513

Tidak ada komentar:

Posting Komentar